You are here
Home > Youthpreneur > Henry Gunawan: Fokus, Konsisten dan Tekun adalah Bahan Bakar Utama Entrepreneur

Henry Gunawan: Fokus, Konsisten dan Tekun adalah Bahan Bakar Utama Entrepreneur

youthpreneur tembalang

“Permasalahan dalam entrepreneur sebenarnya ada 3: Uang, Tenaga, dan Pikiran. Percayalah Tuhan tidak akan memberikan ketiganya secara sukar, biasanya 2 dari 3 hal tersebut dipermudah”, kata Henry saat mengisi Talkshow Battlepreneur Infotembalang. Herny adalah founder dari brand clothing Be Proud of Indonesia yang mengangkat tema tentang semangat patriotisme dan Indonesia. “Ada kasus kita punya modal dan tenaga, tapi tidak ada ide. Atau ada ide dan modal tapi tidak ada tenaga yang mengeksekusi. Nah kalau Be Proud of Indonesia ketika awal beridiri itu termasuk kategori yang ketiga, ada ide ada tenaga tapi belum ada modal”, tambah Henry. Maka dari itu Henry berinisiatif mengajukan proposal ke Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), yang akhirnya memenangkan modal sebesar Rp 7.000.000,-

Berawal dari pendandaan PKM tersebut pada tahun 2009 Henry memulai bisnisnya, saat itu Henry mengajak 4 orang teman untuk mengajukan proposal. Namun pada tahun pertama mereka berlima bubar karena kesibukan masing-masing. Kemudian Henry seijin dari tim yang lainnya melanjutkan konsep bisnis clothing tersebut bersama Inez yang kini menjadi pasangannya. Di tahun kedua Henry belum memiliki tempat untuk mengerjakan konsep desain clothing, Henry dan tim lebih sering memanfaatkan fasilitas kampus, yaitu di Perpustakaan Unika untuk bekerja. Di tahun ketiga, Henry mulai membuka store sendiri di Jalan Moh Suyudi, Semarang dan kini telah pindah ke Jl. Veteran, Semarang.

Setelah untuk produksi dan bagi hasil hanya tersisa Rp 1.000.000 Henry berpikir gimana caranya biar bisa produksi lagi. Henry mulai mencari modal lagi dengan mengajukan konsep dan portofolionya ke orang lain, antara lain dari platform kaskus yang saat itu ada komunitas investor yang sering mendanai.

Ketika ditanya belajar bisnis dari mana Herny mengaku sejak SMA sudah ikut di bisnis Multi Level Marketing, di sana dirinya banyak ditempa untuk memiliki impian yang tinggi serta bersemangat untuk mencapainya. Selain itu Henry juga banyak belajar dari buku-buku yang berkaitaan dengan bisnis dan pemasaran. Henry juga aktif mengikuti komunitas bisnis antara lain AMA (Asosiasi Manajemen Indonesia). Henry berkata bahwa menjalani bisnis tidak selalu berkaitan dengan studi di bangku kuliah, karena semua bisa dipelajari secara otodidak. Henry sendiri memiliki latar belakang studi di fakultas teknik arsitektur, meskipun bisnis yang dijalaninya kini bergerak di bidang desain visual.

Bagi Henry, modal uang itu tidak susah di jaman sekarang, yang paling penting dimiliki adalah niat dan semangat. Kalau kita punya visi dan misi yang jelas untuk bisnis kita, didukung dengan tekad yang kuat, selalu ada jalan untuk permasalahan bisnis yang dihadapi. Pengalaman pertama Henry dengan modal 7 juta, dia hanya membuat sekitar 50 pieces kaos, itupun ternyata salah cetak, dan sedikit tertipu dengan vendor yang memberikan bahan kaos yang di bawah standart. Akhirnya Henry memutar otak dan mencari solusi bagaimana caranya menjual produk tersebut bagaimana caranya biar balik modal dulu.

Bisnis itu seperti roda yang berputar. Mungkin yang selama ini menjalani bisnis belum berkembang, sebenarnya tidak perlu khawatir, jika kita tekun dan mau terus belajar pasti hasil tidak akan berbohong. Jangan terlena juga apabila kita sedang berada di posisi atas, banyak contoh bisnis yang “besar dadakan”, usahakan tetap dikelola dengan komitmen yang sama dan siap dengan segala kondisi yang akan datang.

Memiliki Impian itu Penting Dalam Bisnis

Henry menekankan bahwa impian itu penting, bisnis yang dia jalani ini akan sebesar apa untuk 5 atau 10 tahun yang akan datang. Impian tersebut yang kemudian menjadi tujuan bisnis, tinggal bagaimana usaha kita untuk mencapai impian tersebut.

Di awal merintis usaha Henry mengaku juga mengalami dilema hidup, apalagi dengan latar belakangnya sebagai lulusan mahasiswa arsitektur. Henry juga bercerita bahwa dia sebenarnya bukan dari keluarga pedagang, tekanannya menjadi lebih berat terutama pada orang tua yang sudah membiayai kuliah arsitektur yang juga tidak murah. Namun Henry berpegang teguh pada pilihan hidupnya. “Impian itu akan selalu bisa dicapai dengan cara yang baik jika kita memiliki tekad yang kuat, mbuh piye carane”

Fokus, konsisten dan tekun adalah bahan bakar utama sebagai entrepreneur. “Bidang yang kita geluti sekarang saja jika mau digali kedalaman saja bisa banyak sekali variasinya, memang lebih baik kita fokus di satu bidang. Nanti baru ketika sudah autopilot bisnisnya, bisa mulai mengembangkan ke bidang yang lain,” tambah Henry.

Leave a Reply

Top