You are here
Home > What's Up > Indahnya Keragaman Dalam Diskusi Surau Budaya

Indahnya Keragaman Dalam Diskusi Surau Budaya

surau budaya melek imlek

Semarang – Malam itu di bawah pohon beringin yang menjulang di Taman Budaya Raden Saleh, terdengar lantunan merdu lagu Tombo Ati dengan suara suling yang dipadukan saxofon serta iringan musik jazz. Kolaborasi unik itu menggambarkan keragaman yang indah jika dikolaborasikan dengan baik.

Begitu juga dengan tema yang diangkat pada Surau Budaya ke-4 kali ini yaitu Melek Imlek. Pada tahun 2001, Gus Dur memberikan kebebasan untuk merayakan Imlek bagi etnis Tionghoa, sekaligus menjadi momentum terbukaya keran keberagaman di Indonesia.

Dihadiri Anita Wahid (Putri ke-233 Gus Dur), Budayawan Anis Sholeh Baasyin, Romo Aloysius Budi Purnomo, dan Babahe Laksono dari TBRS sendiri, diskusi berjalan hangat. “Prinsip yang dipegang Gus Dur untuk membebaskan perayaan Imlek adalah bahwa setiap manusia adalah sama, dengan hak yang sama pula”, kata Anita Wahid.

Romo Aloysius Budi bahkan membacakan puisi yang dibuatya untuk Gus Dur , dengan diiringi musik kecapi. Bahkan Romo yang akrab dipanggil Romo Budi ini lincah memainkan alat musik saxofon, dan sempat membawakan lagu Amazing Grace berpaduan dengan tarian sufi.

Malam itu hadir pula Pianist Jazz Idang Rasjidi. Om Idang juga berbagi tentang pemikirannya saat belajar dengan Gus Dur. Bahkan pria kelahiran Bangka Belitung, 60 tahun lalu dengan semangat berduet dengan Romo Budi yang memainkan Saxofon. Acara dimeriahkan juga oleh lantunan keroncong dari Orkes Keroncong Karimoeni, penampilan Absurdnation Band yang juga berkolaborasi dengan Romo Budi dan Idang Rasjidi.

Budayawan Anis Sholeh Baasyin mengungkapkan untuk memahami dan menghargai keragaman, kita harus lebih banyak mendengar dan memaklumi orang lain.

Leave a Reply

Top