You are here
Home > What's Up > Ngesti Pandowo, Salah Satu Ikon Budaya Semarang Hadir Di Loenpia Jazz 2017

Ngesti Pandowo, Salah Satu Ikon Budaya Semarang Hadir Di Loenpia Jazz 2017

Pertunjukkan Wayang Orang Ngesti Pandowo sudah sangat identik dengan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Meski mengalamai pasang surut, Ngesti Pandowo mampu terus bertahan untuk melestarikan budaya dan menghadirkan pertunjukkan untuk masyarakat Semarang dan wisatawan.

Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo telah menggelar pertunjukan sejak tahun 1940-an. Grup ini dirintis oleh beberapa seniman kawakan waktu itu, seperti Sastro Sabdho, Narto Sabdho, Darso Sabdho, Kusni, dan Sastro Soedirjo. Kini Ngesti Pandowo telah memasuki generasi ketiga.

Tidak mudah bagi Ngesti Pandowo yang berasal dari Madiun ini mencapai puncak keemasannya. Di awal berdiri hingga tahun 1945, banyak kesulitan menghadang grup wayang orang ini. Namun mereka tetap ulet untuk terus berkarya dan lebih tertata dari mulai tahun 1949.  Puncaknya, ketika grup ini memperoleh kesempatan pentas di Istana Negara Jakarta yang dihadiri oleh Soekarno, Presiden RI Pertama.

Berkat kegigihan dan kiprah para seniman Ngesti Pandawa untuk terus menghasilkan karya seni budaya di Kota Semarang, Paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo dianugerahi piagam dari Presiden Republik Indonesia saat itu. Penghargaan berupa piagam “Wijaya Kusuma” yang diberikan pada tanggal 17 Agustus 1962.

Ya, meski lahir di Madiun Jawa Timur, Ngesti Pandowo besar di Semarang. Tepatnya mereka mulai menetap di Semarang pada tahun 1950-an. Hadi Supeno, Wali Kota Semarang saat itu sangat menyukai kepiawaian para seniman Ngesti Pandowo yang saat itu sedang pentas keliling dan singgah di Semarang.

Menuruti kecintaan akan budaya serta mencegah agar Ngesti Pandowo tidak berpindah ke tempat lain, Wali Kota kemudian membangunkan Kompleks Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) untuk aktivitas kesenian. Sejak saat itulah Paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo menetap di Semarang.

Tahun 1996 muncul persoalan berkait dengan lahan GRIS, yang membuat mereka tidak mempunyai tempat yang tetap untuk pentas. Hal ini membuat grup wayang orang Ngesti Pandowo sempat tercerai-berai. Namun, itu tak menyurutkan langkah awak Ngesti untuk tetap memilih wayang orang sebagai ajang berkesenian.

Tekad kuat Ngesti Pandowo, membuat grup ini mampu bertahan di tengah perubahan yang terjadi. Pemerintah Kota Semarang pun kembali memfasilitasi grup Ngesti Pandowo untuk pentas di Gedung Ki Narto Sabdho di TBRS. Kini kita pun masih bisa menyaksikan pentas grup wayang orang legendaris ini setiap Malam Minggu.

Bagi penggemar wayang orang, tentu tidak akan bosan menikmati pertunjukkan yang dihadirkan Ngesti Pandowo. Karena setiap minggunya ada lakon berbeda yang dimainkan. Para wisatawan yang berkunjung ke Semarang pun, tentu akan merasa senang jika bisa menikmati pertunjukkan wayang orang, yang telah menjadi ikon budaya Kota Semarang ini.

Kali ini Negsti Pandowo akan hadir di Loenpia Jazz 2017, pada tanggal 20 Mei 2017 di TBRS Semarang, dengan lakon Parta Krama: Cinta Mati Arjuna kepada Sembadra yang sinopsisnya bisa kamu download di sini. Pementasan wayang orang kali ini diselenggarakan di Gedung Ki Narto Sabdo dengan tiket masuk hanya Rp 30.000,- pada penampilan spesial ini mereka akan merilis website baru mereka.

PR LOENPIAJAZZ 2017 - Irda 085215416119 / Sinta 0811272022 / Yudi  08156528973
Info: instagram, twitter, facebook

Leave a Reply

Top