You are here
Home > What's Up > Rembug Socmed 4: Menyikapi Sampah Politik 2014

Rembug Socmed 4: Menyikapi Sampah Politik 2014

Semarang – Sabtu (25/1), gelaran Rembug Sosial Media (rembugsosmed) kembali diadakan dengan pembahasan tentang maraknya sampah politik berupa poster-poster yang menempel di tempat yang tidak selayaknya. Bertempat di Hotel Holiday in Express, kali ini Sumbo Tinarbuko dari Reresik Sampah Visual dan Wahyu dari Komisi Pemilihan Umum mendapat kesempatan sebagai pembicara. Kedua pembicara ini membahas secara padat bagaimana kita, masyarakat secara luas, seharusnya menyikapi adanya praktik tentang sampah politik. Walaupun beberapa pengunjung dari beberapa admin sosial media dan komunitas tidak mendapat tempat duduk, mereka terlihat antusias mengikuti diskusi kali ini.

Diawali oleh Anton sebagai moderator, acara dimulai pukul 14.30 yang kemudian dilanjutkan diskusi dengan kedua pembicara. Sumbo Tinurboko mengawali diskusi sore ini dengan beberapa pembahasan yang menarik. Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengungkapkan bahwa mereka sebagai komunitas reresik sampah visual bukanlah komunitas yang membredel begitu saja adanya beberapa pelanggaran pemasangan poster maupun baliho di tempat yang tidak selayaknya, seperti pepohonan, melainkan mereka bekerjasama dengan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Satpol Pamong Praja (PP). Dengan begitu, aktivitas yang mereka lakukan ini terbilang legal karena sudah mendapatkan izin.

Komunitas Reresik Sampah Visual membuat 5 sila sampah visual yang dapat dijadikan referensi membuat aturan, antara lain:
1. Dilarang dipasang dan dipakukan di batang pohon
2. Dilarang dipasang di jembatan, tiang telpon, tiang listrik, tiang rambu lalu lintas, dan tiang lampu penerangan jalan
3. Dilarang dipasang di dinding dan bangunan heritage
4. Dilarang dipasang di trotoar
5. Dilarang dipasang di taman kota dan ruang terbuka hijau

Banyak pengalaman menarik yang sudah dialami oleh Dosen ISI ini, salah satu pengalaman yang menarik menurutnya yaitu banyaknya orang yang antusias berkoar di twitter mendukung aksi reresik sampah visual, namun ketika ditunggu dijalan yang turun hanya segelintir saja. Diakhir diskusi, beliau menutup acara dengan pesan, “lebih baik saya dikritik tapi saya sudah melakukan sesuatu, daripada saya mengkritik tapi saya tidak melakukan apa-apa.”

Acara Rembug Socmed yang ke-4 ini dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta dari berbagai kalangan seperti social media, blogger, maupun komunitas di Semarang.

Leave a Reply

Top