You are here
Home > What's Up > Review: Robocop (2014)

Review: Robocop (2014)

Remake film Robocop yang disutradarai sutradara asal Brasil, Jose Padhilla ini terbilang berhasil membawa tokoh Alex Murphy ke dalam babak baru yang lebih segar. Yang paling tampak adalah bentuk fisiknya yang kini lebih ramping, modern, detil, dan warna dominan hitamnya yang memberikan kesan baru untuk pahlawan kota Detroit tersebut. Teknologi yang digunakan pun sudah semakin maju, dibandingkan dengan film pertamanya yang legendaris di tahun 1982. Kemampuan analisis database warga detroit, ancaman penjahat, dan akses ke cctv seluruh kota serta penjelasan ilmiah yang ditampilkan membuat Robocop menjadi lebih reasonable dan realistic.

Berawal dari usaha OmniCorp yang merancang robot-robot polisi untuk keamanan warga Amerika, namun ditentang oleh pemerintah melalui Undang-Undang Anti Robot karena dianggap tidak manusiawi dan berperasaan. Raymond Sellars (Michael Keaton) , pemimpin OmniCorp memiliki ide untuk menggabungkan manusia dan robot agar proyeknya diterima pemerintah, hingga bertemulah mereka dengan Alex Murphy (Joel Kinnaman), polisi jujur yang tubuhnya terluka parah karena teror ledakan di rumahnya ketika dia sedang menelusuri kasus suap Polisi. Dibantu Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) dan timnya OmniCorp berhasil menciptakan Robot Polisi yang terhubung dengan organ manusia melalui tubuh Murphy, sekaligus sebagai satu-satunya harapan hidup untuknya.

Dari situ konflik dimulai, dendam Murphy kepada Antoine Vallon (Patrick Gallow), penyelundup senjata ilegal yang menyuap polisi Detroit dan berusaha membunuh Alex Murphy. Kemudian Raymond Sellars yang akhirnya justru melakukan percobaan pembunuhan kepada Robocop dan melakukan kebohongan publik, dibantu oleh Mattox (Jackie Early) yang sedari awal tidak menyukai Robocop. Sekilas alur ceritanya memang terlalu kompleks dan tidak fokus karena terlalu banyak penjahat dan kasus yang harus diselesaikan dalam durasi 2 jam. Peran media Amerika sebagai pembentuk opini publik sangat ditonjolkan dalam film seharga 120 juta US$ ini.

Di sisi lain Padhilla tidak lupa menambahkan unsur humanis. Antar lain ketika perang, Robocop tidak luput dari kerusakan dan luka-luka yang menekankan bahwa Robocop bukanlah superhero dengan kekuatan super power yang tak terkalahkan namun juga memiliki perasaan dan kelemahan sebagai manusia. Di awal selesainya project Robocop pun penonton diajak merasakan konflik batin Alex Murphy dan Clara (istrinya) yang terus memperjuangkan hak keluarganya dari Perusahaan OmniCorp.

Secara keseluruhan, Robocop menjadi film action superhero yang recomended untuk ditonton, dan sangat memuaskan buat kamu pecinta science fiction movie. Sebuah remake yang berhasil walaupun masih ada kekurangan dalam manajemen alur dan konflik. Namun cukup menarik ketika scene action dan bagaimana Robocop memanfaatkan kecanggihan teknologi di tahun 2028.

Leave a Reply

Top